Tuesday, April 14, 2009

Aceh Election 2009

Beberapa hari yang lalu, tepatnya tanggal 10 April, aku jalan ke Aceh pidie. Tujuanku adalah uang (hahaha), nggak, maksudnya aku kerja jadi translator buat pemantau Asing. So..here it is..the journey start.

Aku jalan ke beberapa kecamatan di Pidie, ke sigli, juga kecamatan lain (mila dan indrajaya). waktu itu kita mengunjungi 9 TPS. I found lots of interesting things there. Ternyata
masyarakat sana sangat exited untuk ikutan pemilu, semua masyarakatnya berbondong- bondong buat dateng, malah ada masyarakat yang kecewa banget karena mereka tidak mendapatkan undangan untuk memilih.

Pemilu kali ini adalah pemilu yang cukup berbeda untuk masyarakat aceh, soalnya ini merupakan kali pertama Partai lokal ikutan pemilu. So..Acehnese people think that this is the time for them to do something for Aceh, to vote for Aceh's future. Setiap masyarakat mengikuti jalannya pemilu. mulai dari orang muda sampai orang tua, bahkan anak- anak juga ikutan ke TPS, walaupun mereka hanya berwara- wiri di sekeliling TPS dan melihat- lihat pengumuman- pengumuman yang ada di sekitar TPS.

Proses perhitungan suara juga nggak kalah seru. masyarakat pemilih juga ikut menyaksikan proses ini, jadi bukan hanya petugas kpps dan saksi saja. well, it was really seems like " pesta rakyat". sebenarnya aku agak2 sedih juga sih nggak bisa ikutan milih.. (gara2 aku lebih mementingkan uang, hahaha) merasa malu juga, kakek- kakek yang uda pake tongkat aja milih (dia bener2 ngabisin waktu 20 menit lebih lho di bilik suara), nenek- nenek yang tuna netra juga milih (ditemani pendamping tentunya), and I? hwaaaa..malunya saiya..what kind of generation I am?

here are some pictures from the election




well, pelajaran..
pengalaman juga, aku pasti ikutan pas pilpress ntar. tapi paling nggak, kalo aku tetap di B.Aceh aku nggak bisa nemuin pengalaman yang cukup seru ini.

Tuesday, April 7, 2009

Just 10 minutes after Yesterday (I'll be fine)

Tuesday, April 07, 2009
12:10 AM



Just 10 minutes after yesterday.
Today I'm still asking and thinking what was going on yesterday? Ten minutes a go
I am sitting here, on the same place like yesterday
On the same place like ten minutes a go
I am not moving yet since yesterday.

I am still the same person,
But it's not only as same as yesterday
I am still the same person even from long time a go
Stay as the same person
But it's not the same with them
It was just like yesterday when they walked away
But it was not
It was not Ten minutes a go
It was long time a go since they leaved me alone

Just 10 minutes after yesterday.
Today I'm still asking and thinking what was going on yesterday? Ten minutes a go
I am sitting here, on the same place like yesterday
On the same place like ten minutes a go
I am not moving yet since yesterday.

It is Not about Ten minutes ago
It is not about Yesterday
It is not about my loneliness
It is about me stay the same
I'll be fine with you or without you

Just 10 minutes after yesterday.
Today I'm still asking and thinking what was going on yesterday? Ten minutes a go
I am sitting here, on the same place like yesterday
On the same place like ten minutes a go
I am not moving yet since yesterday.

But I'll be fine
I'll always be fine
Not only for today or ten years later
I'll be fine forever
With me and myself

Weird day

Monday, April 06, 2009

11:34 PM

Hari ini aneh sekali

Aku benar - benar tidak tahu apa yang terjadi denganku

Dari tadi siang, aku bergerak seperti cacing kepanasan

Benar- benar tidak tahu apa yang sedang menimpaku.


Sekarang sudah jam 11:34 malam

Dan aku belum bisa tidur

Pastinya ini bukan karena kopi

Karena hari ini aku sama sekali nggak minum kopi. Ada sih..


Tapi bukan kopi murni, Cuma sanger, dan itu juga tadi pagi..

Jadi pastinya efek cafeinnya juga sudah habis kan?


Hari ini aku nggak merasa jadi diri sendiri. Aku susah pada hal yang aku sendiri tidak tahu apa itu.

Akhirnya sekarang aku berakhir didepan layar monitor benda yang punya tuts -tuts keyboard ini, sambil mengetikkan sesuatu yang aku juga tidak tahu apa, yang aku sebut blog.


Aku uring- uringan terus, sepertinya ini akan berlangsung lumayan lama. Fiuh…untung saja besok aku sudah mulai lagi bekerja freelance, lumayan untuk mengalihkan perhatian dari perasaan aneh ini.


GOD…..I want to go somewhere…to a place that I can feel free and relax.

Kemana ya? Mungkin ke tempat yang banyak daun bergugurannya. Hahaha..aku memang sangat suka daun berguguran, aku merasa tenang melihat dedaunan berguguran dan berlarian di jalanan digiring sang angin (too much ya? =p)


Atau mungkin ke pantai, dimana aku bisa berteriak sekencang- kencangnya, supaya aku dapat merasakan kelegaan (agak sinetron ya?hihihi)

Fiuh….I don't know…what's going on?

Sort of unidentified feelings.

Mungkin sebaiknya aku tidur saja..

Nite..



Ps: Aku sedang nyoba nulis dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar, ternyata nggak gampang ya? Tata bahasaku masih kacau banget, dan aku merasa nggak bebas, nggak akubanget kesannya. Masa aku mau nulis blog aja mesti mikir- mikir and milih kata- kata plus nyusun kalimat kaya di pelajaran bahasa Indonesia waktu sekolah dulu.

Pps: AKU KENAPA???? Aku bingung banget…where is vida? Biasanya aku nggak kayak gini..

Ppps : Hiks...

Monday, April 6, 2009

Photography






Photography - Aku sukaaaa...banget
tapi aku belum jago..masih bodo banget
malah nggak punya camera DSLR
hahaha
tapi gpp, aku kan lagi nabung..
hehehe
ini beberapa foto yang kuambil waktu aku ikutan hunting foto untuk pengungsi Rohingya bareng AFN ( Aceh Fotografer Net)
n Guess what?
my picture become the winner
whaaa
aku nggak nyangka bgt
aku pinjem camera temenku lho
hehehe
happy2 yay!!!
jadi tambah semangat buat belajar
beniner's luck nih kayanya
=p
hahaha



Foto terakhir ini adalah fotoku yang dapet juara itu
ya ampun..aku seneng bgt...
thanks ya jo buat memory card nya
thanks Padiel buat cameramu
hehee
modal dengkul banget ya?
=p
gpp
Go Vida

Wednesday, November 5, 2008

Ketika Kopi dan Rokok mengembik






Ini bukanlah sebuah fable atau dongeng yang menceritakan sihir yang membuat benda mati seperti rokok dan kopi dapat mengembik, tetapi ini adalah sebuah fenomena yang sudah menjadi “adap” dalamsiklus cikal bakal KKN di Indonesia, khususnya Nanggroe Aceh Darussalam, Tanah rencongku tercinta.

Apakah anda pernah memiliki beberapa urusan administrasi di berbagai instansi? Jika iya, tentunya anda sudah tidak asing lagi dengan istilah “uang kopi” ataupun “uang rokok”. Kebetulan dua benda ini sering menjadi objek, inilah yang saya maksud mereka tiba- tiba dapat mengembik. Ketika kopi dan rokok dijadikan kambing hitam untuk mendapatkan penghasilan tambahan bagi beberapa petugas administrasi, anda terpaksa harus merogoh kantong untuk mencari pecahan limaribuan atau sepuluh ribu, bahkan 20 ribu dan mungkin lebih supaya urusan yang sedang anda urus dapat terselesaikan. Jika tidak, maka kebanyakan petugas administrasi akan bermuka masam, atau lebih parahnya lagi, urusan anda tidak akan dikerjakan sama sekali.

Hal ini tidak hanya terjadi di kantor- kantor pelayanan umum, tetapi juga sering terjadi di pemerintahan, kepolisian bahkan di lembaga pendidikan. Bagaimana jika saya memberi sebuah contoh kasus?

A: Pak, saya ingin mengurus surat kehilangan barang.

Petugas Adm: Baik pak, nama? Alamat? Bla…bla..bla..

A: Nama A, tinggal di B, blab la bla

Petugas Adm: Oke, administrasinya 5000 pak.

Yang menjadi pertanyaan pada kasus ini adalah, administrasi itu untuk apa? Kertaska?(yang selembar harganya mungkin hanya RP.200) atau untuk tinta mesin ketikkah? (apakah tinta itu harus dihitung sedetail itu?) atau malah untuk ongkos si petugas mengetik? ( bukankah mereka memang sudah digaji untuk itu?)

Contoh kasus lain yang terjadi di lembaga pendidikan, apabila anda ingin melegalisir ijazah anda, maka Anda harus membayar Rp.3500 per lebarnya( untuk legalisir TOEFL malah Rp.10.000), sementara anda memfotocopi sendiri ijazah anda, yang berarti, petugas hanya perlu mencap dan mengesahkan untuk tanda tangan. Apakah uag tersebut adalah ongkos untuk menekan stempel dan tanda tangan? Bukankah kebijakan suatu lembaga memang mengesahkan surat yang pernah dikeluarkan apabila suart itu memang terbukti benar?(tentunya apabila si pemilik membawa sertifikat asli). Atau apabila pemungutan biaya pengesahan merupakan kebijakan, apakah semahal itu?

Sejujurnya permasalahan tidaklah terletak pada nominal yang dikutip si petugas Adm, tetapi berkaitan dengan budaya dan adapt, apakah hal ini udah menjadi budaya kita? Sehingga banyak petugas yang bermuka masam dan ogah melakukan tugasnya jika tidak disuguhi dengan “uang kopi” dan “uang rokok”. Atau urusan kita akan diperlambat apabila kita tidak mengikuti budaya tersebut. Jadi dapatkah saya menyebut para petugas adm dan lainnya yang masih menuntut “uang kopi” dan “uang rokok” atau apapun sebutan sebangsanya sebagai “perkumpulan penerima gaji buta”? atau apakah kita punya sebutan lain untuk mereka?

Pada akhir tulisan ini saya ingin mempertanyakan kembali, apakah pemberantasan korupsi yang sedang digalakkan besar-besaran dapat terwujud? Jika keadaan mengkambing-hitamkan kopi dan rokok masih terus terjadi? Dan anehnya orang- orang telah terbiasa dengan hal ini dan malah menggolongkannya dalam bagian dari peraturan beradministrasi.

Sebagai intermezzo; kasihan rokok dan kopi itu, mereka hanya benda mati, dan tiba- tiba harus sering difitnah untuk menggali rejeki tambahan dan menyerongkan budaya bangsa, kalau setiap orang mulai memperlakukan mereka sebagai benda mati, bukan benda hidup yang dapat mengembik (tidak menjadikan mereka sebagai tameng pencari uang lebih) tentunya budaya itu dapat dihilangkan sedikit demi sedikit.

Sunday, October 26, 2008

GINA

Pagi ramadhan itu aku terbangun dengan suasana hati yang sangat tidak enak, bukan kenapa- napa, tetapi karena ada yang memaksaku untuk berpindah dari dunia mimpi ke dunia nyata, alias bangkit dari tidurku. Semua orang juga mengakui, tidur pagi di bulan ramadhan memang sangat nikmat, walaupun sebenarnya ini salah satu budaya malas.


Pagiku diawali oleh suara jeritan tangis melengking seorang anak kecil, Ugrhhh...sangat mengesalkan. Tapi begitu aku memasang telinga dengan baik, ternyata ada bunyi lain yang mengiringi tangisan rewel yang berasal dari rumah tetanggaku itu. Terdengar ritme pecutan yang diulang- ulang, ditengah jeritan kata- kata “ sakit..., ayah udah...., sakit..., ampun..” ternyata suara itu milik Gina kecil, seorang anak yang sangat ceria dan lincah. Sepertinya dia sedang dihukum lagi oleh sang ayah.


Gina adalah seorang anak yang sangat periang, cerewet, sedikit bandel, dan pintar, juga sangat kritis dalam menanggapi berbagai hal. Aku rasa dia akan tumbuh menjadi seorang pribadi yang berprinsip dan idealis. Dia tidak akan menerima begitu saja suatu hal, tanpa adanya penjelasan yang masuk akal. Dia akan protes terhadap banyak hal yang sering dilakukan oleh orang dewasa, tapi sering berakhir dengan diomeli dan bahkan dipecut dengan tali pinggang.


Sejujurnya, aku masih sangat heran dengan sistem pendidikan yang diterapkan dalam mendidik anak dalam rumah tangga. Orang tua lebih memilih mengajarkan anak mereka dengan hukuman dibandingkan berdialog dan penjelasan. Kadang- kadang para orang tua lupa bahwa mereka adalah orang dewasa yang seharusnya memiliki cara penyelesaian yang juga dewasa, bukannya dengan mengedepankan ego mereka dan menganggap kalau anak selalu salah.


Kebetulan Gina termasuk salah satu anak yang kurang beruntung, berada dalam keluarga berperekonomian rendah dengan sistem pendidikan keluarga yang lebih memilih hukuman fisik untuk mendidik anak mereka. Sehingga tidak heran tali pinggang sang ayah sering mendarat di kulit Gina. Tapi Gina adalah gadis kecil yang luar biasa, atau malah hukuman fisik telah menjadi hal biasa baginya. Karena gina kecil tetap ceria, selalu memiliki senyuman manis itu, dan Dia juga masih tetap gadis kecil yang rewel, cerewet, kritis, dan bandel.


Sewaktu aku ingin shalat tarawih, aku kembali bertemu Gina, kali ini dia tersenyum manis seperti biasanya, malah memamerkan mukena barunya padaku. Padahal baru tadi pagi dia menerima hukuman berat itu, sungguh seorang Gina yang tangguh.

Tuesday, October 14, 2008

Mommy..

hubungan ibu dan anak dimana2 sama.

bahasa dan cara boleh beda

tempat dan status juga beda

punya pikiran atau nggak, tetap aja sama

yang penting semuanya punya kasih sayang

kalau bicarai tentang hewan, mereka nggak punya pikiran kan?

tapi punya kasih sayang

jelas2 ibu kucing sayang banget sama anaknya

tapi nggak ada yang tau kenapa kadang2 dia nggak peduli sama anaknya, padahal dia pasti punya tujuan

kadang2 kita juga pikir orang tua kita nggak peduli sama kita

tapi mereka pasti punya tujuan

sampai sekarang aku masih ingat kejadian yang aku liat di sebuah halte..

ada seorang ibu dan anak, jelas bukan dari kalangan berada, kumal, kotor . bukan mau merendahkan, tapi itulah yang keliatan..

mereka bercanda sambil tidur2an di halte

di tempat orang lain berdiri,

kata2 si ibu kasar…

tapi keliatan banget dari matanya dia sayang sama anaknya

makanya aku bilang, cara boleh beda

tapi tetap aja kasih sayang

miss my mommy…

love you bunda…

writen: 23 maret 2006